Pemanfaatan Sumberdaya Genetik Hutan untuk kepentingan bisnis

Indonesia merupakan negara mega biodiversity dengan kandungan keanakeragaman hayatinya yang luar biasa banyak.  Kandungan keanekaragaman hayati tersebut diduga masih belum banyak yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi yang dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan.  Meskipun demikian, kita patut bersyukur dan sekaligus perlu memutar kreatifitas kita agar sumberdaya genetik tersebut dapat dimanfaatkan bagi sebanyak mungkin orang.  Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian muncul adalah, sejauh mana sumberdaya genetik hutan baik hewan maupun tumbuhan dapat dimanfaatkan oleh manusia.  Pengetahuan-pengetahuan dasar apa yang dibutuhkan agar sumberdaya genetic yang dimanfaatkan tersebut tidak hilang melainkan lestari.  Pada tulisan kali ini, saya ingin membahas informasi mengenai pemanfaatan hewan asal hutan yang telah digunakan oleh manusia untuk menghasilkan keuntungan.  Secara spesifik saya ingin membahas tentang sumberdaya genetik ikan terlebih dahulu khususnya perkembangan ikan hias dan konsumsi yang dijadikan komoditas bisnis dan berasal dari alam.

Pengenalan Sumberdaya Genetik Ikan

          Secara umum sumberdaya genetic ikan yang telah digunakan oleh manusia terdiri atas dua klaster, yaitu ikan sebagai komoditas rekreatif (leisure) dan ikan sebagai komoditas pangan (konsumsi).  Kedua klaster ini memiliki tipe dan karakteristik sendiri yang berbeda-beda.  Untuk ikan hias, komoditas utama yang menjadi daya tarik adalah sisi keindahannya baik dari bentuk tubuh, corak warna, bentuk sirip, mulut dan berbagai kandungan fisik yang terdapat pada jenis tersebut sehingga menarik minat manusia untuk memeiliharanya.  Contohnya ikan louhan, arwana, koi, cupang dan lain sebagainya.  Untuk ikan konsumsi, komoditas utama yang dimanfaatkan adalah dagingnya yang berkualitas bagus, renyah, memiliki cita rasa tinggi dan harga terjangkau sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.  Contohnya ikan lele, gurame, mujair, tawes, gabus dan lain-lain.

          Karakter-karakter khas yang terdapat pada ikan tersebut menarik minat manusia untuk memelihara dan membudidayakannya kemudian berlanjut untuk memperdagangkannya sehingga memberikan nilai ekonomi pada komoditas tersebut.  Hal ini kemudian mendorong berkembangnya teknologi pembenihan ikan baik ikan hias maupun konsumsi sehingga domestikasi terhadap sumberdaya genetic yang semula berada di alam liar berpindah ke lokasi-lokasi budidaya seperti empang mapun akuarium.  Penelitian-penelitian terhadap sumberdaya genetic ikan tersebut semakin luas dan bahkan hingga menghasilkan jenis-jenis baru yang tidak terdapat di alam melalui pengembangan teknologi budidaya.

Perlunya Memahami Sumber Genetik Ikan

          Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa sumberdaya genetic ikan yang ada saat ini semua berasal dari alam liar.  Setelah manusia mulai memanfaatkannya untuk kepentingan leisure dan konsumsi, mulailah ikan dibudidayakan dan dikembangkan.  Hal ini bukan berarti tidak memiliki resiko sama sekali.  Apabila tindakan manusia untuk mengembangkan sumberdaya genetic ikan tanpa ditopang oleh pengetahuan yang memadai, maka tidak heran apabila ikan hasil rekayasa tersebut akan merusak sumberdaya genetic asli yang masih terdapat di alam.  Oleh sebab itu, perlindungan terhadap genetic alam ini menjadi penting agar genetic asli yang berasal dari alam dapat dimanfaatkan secara lestari.

          Hasil teknologi manusia berupa teknik budidaya ikan hias maupun konsumsi yang beragam telah berkembang banyak di Indonesia.  Teknologi budidaya ikan hias telah berkembang menjadi bisnis yang menggiurkan, apalagi Indonesia saat ini dikenal sebagai surganya ikan hias.  Berbagai jenis ikan hias yang dibudidayakan di Indonesia amat beragam, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.  Negeri tropis ini menjadi lokasi budidaya yang cocok untuk hamper semua ikan hias.  Demikian juga dengan ikan konsumsi, teknologinya berkembang luas dan telah menjadi komoditas bisnis yang luas biasa.  Tetapi tahukah kita bahwa jenis-jenis ikan hias maupun konsumsi yang kita budidayakan berpotensi menghancurkan sumberdaya genetic ikan hias dan konsumsi asli yang kita miliki?  Pengetahuan ini dibutuhkan untuk memahami bagaimana interaksi antara jenis-jenis asli dengan jenis-jenis pendatang agar genetic asli yang tersebar dibanyak ekosistem baik perairan maupun daratan di Indoensia tidak rusak.  Kerusakan terhadap sumberdaya genetic yang terdapat di alam cenderung sukar untuk dipulihkan sehingga pencegahannya melalui pemahaman yang tepat amat diperlukan.

Jenis Pendatang dan Sikap Kita

          Pengembangan bisnis ikan hias maupun konsumsi tidak dapat dilepaskan dari hadirnya jenis pendatang (alien spesies) karena berbagai pertimbangan seperti pertumbuhan yang cepat, warna yang indah, murah dan mudah dibiakan.  Hal ini berujung pada efisiensi pemanfaatan sumberdaya tersebut untuk kepentingan bisnis semata.  Di satu sisi hal ini dapat dibenarkan tetapi disisi yang lain pertimbangan-pertimbangan seperti ini amat berbahaya bagi keamanan genetic ikan hias maupun konsumsi di dalam negeri karena berpotensi menghancurkan genetic ikan yang terdapat di alam.  Salah satu contohnya adalah ikan lele alam (clarias sp) yang saat ini sukar ditemukan di sungai-sungai di Indonesia.  Lele local/alam sudah diganti oleh lele dumbo dengan berbagai varian nya dan sudah dikembangkan di berbagai daerah oleh petani.  Ciri khas lele dumbo yang berbintik-bintik berasal dari afrika dan memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat.  Apabila jenis ini terlepas ke sungai maka dikhawatirkan akan menghabiskan jenis-jenis local yang mungkin saja masih bertahan di lokasi tertentu dari sungai karena lele terkenal kanibal dan senang memakan ikan-ikan kecil lainnya.  Untuk ikan hias adalah jenis aliagtor yang berasal dari amazon.  Jenis ini di habitat aslinya dapat dikendalikan karena menjadi santapan bagi buaya alligator dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar sungai.  Tetapi di Indoensia, jenis ini bukanlah ikan konsumsi melainkan jenis ikan hias.  Ikan aligator merupaka predator yang senang memakan ikan kecil lainnya.  Sikap bijaksana kita selaku konsumen maupun pembudidaya adalah memahami perilaku da asal-usul jenis-jenis pendatang ini dan kemudian mengisolasinya agar tidak keluar dari kolam atau akuarium.  Edukasi kepada konsumen terhadap jenis-jenis pendatang perlu dilakukan bahkan edukasi tersebut dapat dikatakan “kejam” yaitu dengan cara memusnahkan jenis-jenis pendatang tersebut agar tidak merusak genetic ikan asli di alam liar.

Penutup

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada HewanHobby.com yang telah memfasilitasi tulisan ini sebagai bentuk edukasi kepada segenap pengguna materi genetic yang berasal dari alam baik itu berupa hewan maupun tumbuhan.  Tulisan ini tidak berhenti sampai di sini melainkan akan diteruskan secara bertahap hingga mendetil pada tingkat spesies baik berupa teknik budidayanya maupun pemanfaatannya untuk bisnis.  Demikian, akhir kata saya ucapkan terima kasih.

 

Penulis :

Ignatius Adi Nugroho, S3 pada bidang Ilmu Pengelolaan Hutan IPB, Bekerja pada Badan Litbang dan Inovasi Kementerian LHK, pehobi budidaya ikan hias/konsumsi dan tanaman hias.

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Pemanfaatan Sumberdaya Genetik Hutan untuk kepentingan bisnis

  1. tulisan ini dibuat untuk menambah wawasan khususnya mengenai banyaknya aspek SDG yg dimiliki oleh Indonesia. Berbarengan dengan tulisan ini, pada tanggal 23-24 maret 2021 sedang dilangsungkan FGD mengenai geopolitik dan SDG di kemen LHK. Tulisan ini tidak berhubungan dg acara tersebut melainkan hanya sekedar menambah wawasan bahwa memahami SDG untuk berbisnis merupakan aspek yg penting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.